Peningnya Kepala

Kamis, 29 Januari 2009
Sudah jam 8 malam lebih, biasanya aku sudah terlelap, tetapi malam ini kepalaku teras pening. Banyak yang sedang kupikirkan, termasuk apakah aku telah salah memilih pekerjaan di jalur negeri. Jalur ini amat lambat. Segala sesuatu tampak berbelit-belit; panjang dan lama. Yang tampaknya mudah jadi susah, yang susah jadi makin susah. Kadang orang memasang idealisme tanpa tahu jalan ke arah ideal.

Jujur, pada awalnya aku sama sekali tak tertarik jadi PNS. Bahkan waktu itu PNS jadi bahan tertawaan bagi kuliahku, apalagi Mr. Azhari yang terus mewanti-wanti agar kami tak ada yang jadi PNS hampir di setiap kuliahnya. Tentu saja, semua teman kuliahku adalah pejuang-pejuang yang tak tunduk pada kekakuan….
Tetapi kebutuhan hidup menggiringku ke sini, ke kantor pajak nan megah. Ketika aku melihat cara pengelolaan kantor ini, ingin sekali aku mengubahnya, karena tak cukup optimal bagi kalangan profesional. Aku ingin berjuang dalam pekerjaan, sebelum api ini mati. Barangkali aku akan mencari cara untuk lebih maju lagi.

Aku hanya berharap bahwa gaji pertamaku tak ditahan terlalu lama. Bukan karena apa-apa, tetapi tabunganku sudah minus dan tak mungkin aku meminta uang dari orangtua. Apalagi dengan lokasi magang yang jauh dari rumah, membuatku harus kos yang artinya tambahan biaya. Belum lagi biaya e-learning dan tetek bengeknya. Kalau nanti diklat jadi di Jakarta, tentu itu artinya lonceng kematian bagi perekonomianku yang sudah amburadul ini.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.