Bertahun-tahun saya tinggal dan mengkonsumsi jasa di Indonesia, ada 1 penyakit yang umum ditemukan pada produk-produk ini : overselling. Kasus terakhir yang saya alami adalah tentang provider internet yang pernah mengklaim berkecepatan 10x dibandingkan provider wireless internet lainnya. Namun jauh sebelum itu, kasus-kasus overselling bukan tidak pernah terjadi.

Secara klise, setiap pengusaha menginginkan ROI (return of investment) secepat mungkin, dan untuk sektor jasa, terutama di bidang teknologi, mereka membutuhkan modal awal yang sangat besar. Tentu saja, langkah selanjutnya setelah infrastruktur terbangun adalah mulai melakukan penjualan. Dengan klaim-klaim yang bombastis, biasanya orang berbondong-bondong mencoba, apalagi jika disertai iklan dan promosi yang masif melalui berbagai media.
Jumlah Pengguna vs Beban Layanan
Semakin banyak pelanggan, tentunya si penyedia jasa akan menerima beban yang besar pula. Pertanyaannya, seberapa beban yang mampu ditampung oleh si penyedia jasa tersebut pada awal dibentuknya infrastruktur? Ketika kita berbicara tentang jumlah maksimal pelanggan, tentunya jasa seperti layanan transportasi lebih mudah dihitung ketimbang layanan telekomunikasi atau energi, misalnya, yang memiliki banyak parameter selain jumlah pengguna, juga besar pemakaian setiap pengguna.
Kecenderungan penyedia jasa yang tak bisa ditentukan jumlah maksimum penggunanya secara tepat biasanya akan menghasilkan overselling. Overselling di masa lampau selalu terjadi di sektor telekomunikasi, khususnya jaringan nirkabel. Penyedia jasa baru melakukan upgrade infrastruktur setelah mencapai milestone tertentu atau ketika keluhan pelanggan sudah tak tertampung lagi. Demikian dengan sektor energi. Perusahaan negara yang mengklaim kekurangan pasokan, sampai saat ini masih terus menambah pelanggan, walau akibatnya jurang antara permintaan dengan suplai makin besar. Akibatnya lagi-lagi, konsumen menjadi korban.
Klise dan berulang.
Sejak awal kemunculan produk yang awalnya digadang-gadang akan menjadi pionir internet murah di Indonesia, kini sepertinya sulit diharapkan. Bulan demi bulan berlalu, layanan yang diterima pelanggan semakin buruk, sebagaimana yang saya alami sekarang ini. Mulai dari sulitnya mendapatkan koneksi sampai RTO berkepanjangan menjadi tanda berakhirnya era bandwidth besar yang murah.
Tampaknya, harapan akan produk berkualitas dengan harga murah di negeri ini tetap tinggal harapan.
Be First to Comment