Mikael Immanuel Fallo nama lengkapnya.
Kami memanggilnya Opa Mike. Bukan Oppa layaknya di drama-drama Korea, tapi ini opa yang artinya kakek.
Tahun 2003 ketika pertama kali saya ngekos di daerah Pogung Lor Yogyakarta, Bang Mike ini salah satu penghuni lama di kos-kosan itu. Selain tentu saja ada banyak lagi penghuni kos lain yang rata-rata juga mahasiswa. Mas Novi, Gede, Bungul (saya lupa nama aslinya), sepasang suami-istri yang saya juga lupa namanya. Bang Mike ini unik, berikut akan saya ceritakan sepotong-sepotong kisahnya.
Tahun 2003 ketika pertama kali saya ngekos di daerah Pogung Lor Yogyakarta, Opa Mike ini salah satu penghuni lama di kos-kosan itu. Selain tentu saja ada banyak lagi penghuni kos lain yang rata-rata juga mahasiswa. Mas Novi, Gede, Bungul (saya lupa nama aslinya), Mukhlis dan istrinya, serta beberapa orang lainnya. Opa Mike ini unik, berikut akan saya ceritakan sepotong-sepotong kisahnya.
Tahun 2003 ketika pertama kali saya ngekos di daerah Pogung Lor Yogyakarta, Opa Mike ini salah satu penghuni lama di kos-kosan itu. Selain tentu saja ada banyak lagi penghuni kos lain yang rata-rata juga mahasiswa. Mas Novi, Gede, Bungul (saya lupa nama aslinya), sepasang suami-istri yang saya juga lupa namanya. Opa Mike ini unik, berikut akan saya ceritakan sepotong-sepotong kisahnya.
Seperti kebanyakan mahasiswa universitas swasta, Opa Mike termasuk mahasiswa abadi. Sudah sejak tahun 1995 menjadi mahasiswa IST Akprind jurusan teknik kimia, artinya saat saya jadi mahasiswa baru di 2003, Opa Mike sudah menempuh 8 tahun perjalanan hidup sebagai mahasiswa. Nantinya saat saya menyelesaikan kuliah di 2007, Opa Mike belum lulus juga. Konon ia baru menyelesaikan pendidikan di seputar tahun 2008 atau 2009, beberapa tahun setelah kampusnya mengeluarkan kebijakan baru yang mengharuskan mahasiswa lulus dalam waktu paling lama 5 tahun, sementara untuk mahasiswa abadi diberi kesempatan beberapa tahun “perpanjangan nafas”, jika tidak maka harus mendaftar ulang layaknya mahasiswa baru.
Opa Mike ini hidupnya begitu-begitu saja menurut ukuran saya. Bangun rada siang dan tidur larut malam. Sehari-harinya sangat senang mendengarkan radio Sonora, terutama acara AMKM (Anda Meminta Kami Memutar) sedari pagi hingga malam menjelang. Hanya pergi dari luar kos untuk membeli makan atau ada keperluan ke kampus (yang sangat jarang) atau pergi bersama kawan-kawannya sesama mahasiswa abadi. Ia bercerita, rambutnya pernah panjang sekali, sepunggung, yang membuatnya kerepotan setiap kali tidur malam karena harus menyanggulnya ke atas kepala sebelum merebahkan badan.
Kami cukup akrab, terutama saat kami pindah kos. Waktu itu, kos lama kami berniat menaikkan biaya kos dari Rp 100 ribu menjadi Rp 125 ribu yang harus dibayar per 3 bulan atau 6 bulan sekali. Tentu saja saya sebagai mahasiswa pas-pasan memilih untuk pergi ketimbang harus menambah beban keuangan yang cukup berat bagi keluarga kami. Saya memutuskan untuk pindah di kos-kosan Opa Mike yang baru, di mana hanya ada 3 kamar yang otomatis hanya terdiri atas 3 orang di rumah tersebut, yakni saya, Opa Mike, dan Mas Dede (saya lupa nama aslinya). Kos yang baru mengutip ongkos sebesar Rp 85 ribu perbulannya, sudah termasuk semua utilitas yakni air, listrik, dan biaya ekstra karena membawa komputer.
Maka dimulailah hari-hari kami di kos-kosan kecil nan sempit dan apa adanya.
Opa Mike ini sampai di tahun terakhir saya berkuliah di Yogyakarta tidak memiliki komputer. Saat-saat ia ngebut menyelesaikan skripsinya (berupa desain pabrik yang tampaknya amat sangat rumit), ia menyuruh saya untuk mengetikkan skripsinya. Berlembar-lembar tulisan yang terlebih dahulu ditulisnya dengan tangan, kupindahkan ke bentuk digital termasuk rumus-rumus kimia yang waktu itu cukup sulit ditulis. Setelah menyelesaikan ordernya, saya berhasil membeli ponsel pertama saya, bermerek Motorola, atas rekomendasi kawan saya Adam.
Opa Mike orangnya asik. Teman ngobrol yang menyenangkan, terutama di waktu-waktu saya membutuhkan teman bicara. Pintu kosnya hampir selalu terbuka bila ia tidak sedang tidur atau pergi jauh. Segelas teh akan diseduh kalau kita berkunjung ke kamarnya. Dan tidak seperti kamar lelaki pada umumnya, kamar Opa Mike hampir selalu rapih dan bersih, kasur busa tipis tergulung ke atas setelah bangun dari tidurnya, dan abu bekas rokok dan puntungnya selalu dibersihkannya. Maka jangan heran, meski barang-barang di kamarnya banyak, ada cukup ruang bagi beberapa orang untuk duduk selonjor dengan nyaman selama beberapa jam ke depan.
Ada satu pengalaman yang tidak terlupakan dengan Opa Mike. Waktu itu 31 Desember, entah tahun berapa. Momen pergantian tahun biasanya dirayakan dengan cara spesial oleh orang-orang seusia saya. Opa Mike mengajak saya untuk hadir dalam kebaktian tahun baru di GKJ Sawokembar Gondokusuman, sebelah selatan dari RS Bethesda. Kami menumpang kendaraan untuk mencapai gereja ini beberapa jam sebelum acara dimulai, yakni beberapa jam jelang tahun berganti. Opa Mike menjelaskan bahwa di gereja ini acara tahun baru selalu ditampilkan dengan istimewa, begitu juga saat itu, dengan acara drama yang bagus (namun sangat panjang) yang baru selesai lewat jam 12 malam. Saya sendiri tidak ingat drama apa yang dipentaskan, tetapi perjalanan pulang harus kami tempuh dengan berjalan kaki! Butuh beberapa jam hingga kami sampai di kos-kosan.
Opa Mike punya seorang saudara perempuan (entah adik atau kakak) yang berkuliah di UKDW untuk pendidikan lanjut (entah master atau doktor). Saudaranya inilah yang kerap mengirim uang ke Opa Mike yang melibatkan diriku, lebih tepatnya rekening bank BNI milikku. Benar, Opa Mike ini meski mahasiswa perantauan tapi tak lagi punya rekening bank. Entah apa yang terjadi dengan rekening bank miliknya, tetapi yang jelas ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa lagi membuat rekening bank baru. Maka jadilah rekeningku itu tempat persinggahan uang dari saudaranya. Sebenarnya hal ini juga menguntungkanku, karena aku sering ditraktir. Saat saya menyelesaikan kuliah, saya menyerahkan buku rekening bank dan kartu ATM supaya bisa dia pakai untuk menyambung hidup.
Di tahun 2006 ketika gempa melanda Yogyakarta (Bantul dan sekitarnya), saya dan Opa Mike mungkin termasuk segelintir orang yang tidak melarikan diri ketika isu tsunami melanda orang-orang Yogya. Suara ramai kendaraan yang dipacu ke arah utara cukup memekakkan telinga. Kami tidak ikut pergi karena tidak tahu harus ke mana. Apalagi kami tidak punya kendaraan. Jadi kami hanya berdiam diri saja di rumah hari-hari itu, sambil berharap keadaan berangsur pulih seperti sedia kala.
Sebelum kami tahu gempa disebabkan pergeseran lempeng bumi, kami mengira Merapi-lah penyebabnya.
Opa Mike hampir tidak pernah pulang ke kampung halamannya di Soe, Nusa Tenggara Timur, hanya sekali ia pulang untuk “menegosiasikan” uang bulanan dari keluarganya yang sempat tersendat. Konon keluarganya sudah sempat tidak mau membiayai kuliahnya yang “sebentar lagi selesai”, meski pada faktanya masih butuh beberapa tahun lagi untuk selesai. Sebulan ia pergi, dan tiba-tiba suatu hari kembali dengan membawa cukup banyak uang dan sejeriken madu Timor.
Cerita tentang Opa Mike mestinya tak selesai kuceritakan dalam 1 tulisan, karena hampir tiap hari kami bergaul dan pengalaman-pengalamannya telah banyak diceritakannya padaku, belum lagi petualangan kami sepanjang 4 tahun saya tinggal di Yogyakarta. Saya akan coba menuliskan lebih banyak lagi, entah melalui revisi tulisan ataukah artikel yang terpisah.
Berkali-kali saya mencoba mencarinya di Facebook atau melalui mesin pencari, hingga kini belum ketemu. For the old time’s sake, I wish to have another chat with him.
Be First to Comment