(Nggelandang)Ke Jakarta Lagi

Udah lama ngga nulis nih, kayaknya mood juga lagi ngga ada. Kerjaan di kantor juga kemarin numpuk di beberapa hari terakhir, setelah sebelumnya nganggur total 😀
Anyway, ngomongin kerjaan, kemarin Senin aku ke Jakarta buat ujian remedial, bahasa keren dari ngulang ujian. Wekekeke. Ujian Sistem Informasi pula, sama sekali nggak mencerminkan ketangguhanku bermain database dan komputer, plus jadi bahan cacian teman-kawan. Senasib sama temanku akuntan yang nggak lulus akuntansi pajak. Huahahaha.

Perjalanan dimulai dari Semarang, sekitar jam 8 aku naik Nusantara eksekutip dari agennya yang di dr.Cipto. Ahh, untungnya kali ini aku nggak sendirian. Ada Dimas yang juga ngulang matakuliah yang sama. Nama sama, ngulang sama, eh ntar dapat nomor buntut NIP yang sama pulak. Eits, tentunya ini kebetulan belaka lho ya, jangan mikir yang enggak-enggak.
Perjalanan ke Jakarta via jalan aspal nggak terlalu istimewa, kecuali ada truk gede yang ndlosor di tengah jalan, bikin macet beberapa lama. Cuma satu masalahnya : kami nggak tau ke mana tepatnya bus ini akan berhenti. Si agen bus bilang ini adalah jalur terdekat dengan Slipi (karena lewat Grogol katanya sayup-sayup, soalnya kalimat ini baru kuingat lama kemudian). Memang benar ternyata si bus sempat berhenti di dekat Citraland, tapi dengan pedenya kami berdua berharap kalau bus akan berjalan lebih dekat lagi ke arah Grogol. Malang tak dapat ditolak, ternyata bus balik ke poolnya di Daan Mogot. Nah lo….

Ohoho, untungnya Dimas (yang satunya, bukan diriku) sering melintasi jalan ini dahulu kala, jaman dia masih kerja di sektor perbankan. Biar keren, naik busway aja. Okelah, kataku mengiyakan sembari clingak-clinguk. Tapi sepertinya kami tak berjodoh dengan busway pagi itu. Calon penumpang udah berjubel ngantri di gerbang halte busway yang pintu otomatisnya rusak itu. Sekilas Dimas ngeliat ada bus jurusan Slipi. Oh ya, bus jalur 88 memang lewat persis di depan Peninsula Slipi, aku ingat betul (soalnya pernah kesasar dengan bus ini :D). Jadilah kami merelakan uang tiket busway yang udah dibayar dan downgrade dengan naik bus kaleng-rongsokan-berjalan ini, ke arah Slipi.

Slipi, ingatanku kembali ke masa beberapa bulan yang lalu, ketika masih mengikuti DTSD pajak. Beberapa potong adegan melintas di benakku, jiahhh, persis sinetron dah. Kisah ini persis napak tilas deh.
Biar makin menghayati napak tilas, kutantang Dimas jalan kaki dari Slipi Jaya ke Pusdiklat. Hayuk lah, masih pagi ini.
Keinginan membasuh badan dengan air mendera kami begitu kami melewati pom bensin. Tapi sayang seribu sayang, kamar mandinya lagi dibersihkan. Akhirnya kami cuma istirahat sebentar. Sambil nungguin si Dimas solat, aku perhatikan banyak orang naik mobil bagus mampir di toilet pom bensin ini. Wah, toilet papan atas nih, pikirku.

Setelah menikmati sepiring nasi uduk, perjalanan ke barat pun dilanjutkan. Salah nih, harusnya perjalanan ke timur 😀
Sebenernya agak takut juga, katanya gedung Pusdiklat sedang dipugar, jangan-jangan air pada mati lagi. Tapi ternyata air masih nyala, dan setelah tanya-tanya Satpam, kami mandi di mushola. Asem, kok jadi mirip acara nggelandang beneran gini….

Sepertinya jarum jam bergerak lambat hari itu. Kami yang tertunduk-tunduk mengantuk tak sabar menanti jam 1, yang akhirnya datang juga. Aha, sambil ngobrol dengan beberapa teman lama yang kutemui di kantin, menggali informasi dari para magangers yang di Jakarta. Hmm… banyak isu yang kudengar yang tak ada di daerah….
Acara puncak, ngisi bareng lembar jawab ujian, berjalan kurang menyenangkan bagiku. Ini soal-soal kok melenceng dari modul yak. Nggak bener nih, nggak bener lu pade (sambil pake gayanya AndiToni :D).

Selesai ujian, tibalah saatnya pulang ke kampuang. Beruntung ada teman yang bisa dinunuti sampe Plasa Semanggi. Lumayan lah, menghemat beberapa lembar ribuan 😀
Kali ini busway jadi sahabat setia kami, karena tanpanya, jalanan Jakarta bakalan seperti musuh dalam selimut, burung dalam sangkar, hujan duit. Lho.
Kali ini kami bertekad menempuh perjalanan enak via rel. Setelah menikmati sotonya orang Cilacap di sekitar stasiun Gambir situ (yang kayaknya air minumnya jadi penyebab sakit perut T_T), Argo Sindoro pun siap ditumpangi, dan jam 16.45 tepat, coach 5 melaju kencang, mengantarku kembali ke Pekalongan.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.