Nasi.
Beberapa tahun belakangan, mulai muncul kampanye untuk mengurangi konsumsi nasi sebagai bahan pokok dan menggantinya dengan makanan berkarbohidrat lain. Alasan yang dikemukakan sangat banyak, mulai dari alasan kurangnya suplai dari produsen dalam negeri, sampai pada betapa sulitnya pembudidayaan beras di tengah kesulitan-kesulitan alam seperti ketersediaan air dan lahan.
Bagi saya, mengganti nasi tak semudah mengganti aki mobil.
Nasi bukan sekedar kebutuhan pokok. Nasi merasuk dalam kultur saya. Sejak awal hidup sampai saat ini, saya selalu berhadapan dengan nasi hampir setiap hari. Nasi tidak pernah menjadi keinginan, namun kebutuhan. Bagi perut ndeso saya, nasi adalah penawar sakit lapar, walaupun bukan satu-satunya, karena Indomie bisa menggantikan perannya sesekali. Mengingat memburuknya imej Indomie di kalangan praktisi kesehatan, maka istri saya pun ikut-ikutan mengawasi konsumsi Indomie saya.
Saya bukannya tidak pernah mencoba makanan lain untuk mengganti nasi. Singkong dan ubi jalar jarang saya temui, maka sulit bagi saya menjadikannya bahan makanan pokok, lagipula rumit benar cara mengolahnya, sama sekali tak cocok bagi perantau nomaden seperti saya, dan setiap kali memakannya, lapar tak pernah benar-benar terusir dari perut. Roti tawar, walaupun jauh lebih mahal, tak sekali dua saya coba, namun sama saja tak mampu menawar lapar.
Jagung? Aku tak tahu ke mana membelinya. Jagung tak lazim dijual di warung-warung seluruh kampung.
Lalu bagaimana, tuan-tuan pembuat keputusan?
Dari sisi harga, barangkali singkong dan ubi jalar punya valuasi yang lebih rendah dibandingkan komoditas beras. Namun akan sangat menyulitkan beberapa kelompok orang karena sebaran distribusi singkong dan ubi jalar tak pernah sebaik beras yang dapat ditemui bahkan di ujung Indonesia sekalipun.
Hanya Indomie yang setidaknya mampu bersaing dalam harga dan distribusi. Dua bungkus Indomie hanya seharga 3ribu rupiah, harganya sama di seluruh Indonesia, dan Anda dapat membeli Indomie dari Sabang sampai Merauke, dari daerah terkaya sampai daerah bencana.
Lalu bagaimana, setujukah Anda mengganti nasi dengan Indomie?

Be First to Comment