Hari ini adalah hari besok yang kita takutkan kemarin.
Kata-kata di atas sempat kuucapkan pada seorang sahabat dalam sebuah obrolan jarak jauh, tentang kekuatiran akan masa depan.
Masa depan, siapa yang dapat memprediksinya? Aku barangkali sedikit dari sekian banyak orang yang nyata-nyata tidak ingin ditempatkan di Jakarta, apalagi di headquarter. Central. Argh, aku sedikit merindukan kehidupanku di pelosok Papua sana. Hidup hari demi hari tanpa kerumitan, tanpa banyak hal yang harus dikuatirkan. Tahu bahwa esok aku akan baik-baik saja.
Tapi nyatanya tidak begitu. Barangkali ini jalan hidupku yang mengharuskan aku pindah ke kota terbesar di Indonesia ini. Sudah begitu, aku kebagian jatah di departemen yang tupoksinya seperti jauh dari kualifikasi skill-ku. Oh my….
Tapi lantas aku kembali berpikir. Aku seharusnya selalu bersyukur, karena walaupun tampak awut-awutan, ilmu dan pengalaman sangat banyak di sini. Kalau di Pekalongan aku hampir selalu jadi orang pertama yang masuk kantor, di sini aku hanya mampu jadi orang yang kesekian ratus -atau kesekian puluh- dari orang-orang hebat ini. Walaupun aku masih harus menyesuaikan ritme kerja, aku sangat bersyukur karena atasanku penyabar. Beliau mau menjelaskan segala hal detail dan tampak remeh-temeh. Sepertinya tidak banyak atasan yang menanyakan di mana kita akan tinggal pada waktu awal masuk kerja, dan sepertinya pula tidak banyak atasan yang mau bersusah payah mengajari langsung cara membuat surat-surat dinas dari awal hingga akhir. Dan betapa terkejutnya aku, beliau yang katanya lulusan akuntansi punya pengetahuan tentang komputer yang cukup dalam. Bahkan beliau mampu menggunakan keyboard dengan maksimal, termasuk segala shortcutnya. Beliau juga punya banyak pengetahuan seputar komputer yang rusak, selain itu juga paham tentang sistem recovery. Orang ini memang pantas jadi atasan, pikirku.
Aku sedang mengumpulkan bukti-bukti, barangkali Tuhan menginginkanku untuk terus belajar di luar zona nyaman, belajar hal-hal baru, belajar hal-hal di dunia yang ternyata sangat luas.
Jakarta, here I am. Try me!
Be First to Comment