Hidup adalah Petualangan : Belajar di Negeri Orang

Di sela-sela saya menulis paper untuk assignment salah satu matakuliah, saya teringat pesan seorang pembicara dari acara PPI tadi siang.

Sudah semestinya, sebagai warga negara Indonesia, kita membayar iuran untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Bahkan kontribusi serupa tulisan pun akan menginspirasi anak-anak desa untuk membuat mereka bermimpi lebih tinggi lagi.

Sebagai seorang yang beruntung mengenyam pendidikan sampai ke tahap strata satu di saat begitu banyak orang yang tidak mampu merajut mimpinya dan menikmati bangku kuliah. Bahkan tidak sampai di situ saja, saya mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan ke tahap master di luar negeri. Barangkali bagi sebagian orang, kuliah di luar negeri bukan barang mewah sebab latar belakang ekonomi yang sangat berkecukupan, namun bagi kalangan orang seperti saya, bahkan meraih gelar sarjana pun adalah sebuah keajaiban.

Saya ini anak pedagang kaki lima, menentang nasib demi masa depan yang lebih cemerlang

Masih sangat segar dalam ingatan, seakan-akan baru terjadi kemarin, betapa susah payah saya menyelesaikan strata satu karena ekonomi yang pas-pasan. Namun kesemuanya itu saya pahami sebagai sebuah petualangan. Kini petualangan itu bisa saya ceritakan kepada banyak orang, bagaimana bisa survive di tengah keterbatasan. Kerja ekstra keras mesti dilakukan supaya dapat mengimbangi keterbatasan dana yang dimiliki, sebab sebenarnya jalan akan selalu ada bagi mereka yang memeluk dan menghidupi mimpi mereka. Saya tahu pasti bahwa keajaiban selalu ada. Saya tahu pasti bahwa saya dapat meraih apa yang saya inginkan selama saya mengerjakan jalan menuju cita-cita itu.

Bagi saya, pendidikan bukan sekedar alat untuk meraih peluang kerja yang lebih baik. Bagi saya, tujuan akhir pendidikan bukanlah uang. Bagi saya, kebijaksanaan diperoleh mereka yang memiliki pendidikan yang baik, oleh karena itu saya mengejar pendidikan itu. Tiada masalah seperti apapun keadaan ekonomi saya, sebab kini saya bisa berkata “I’ve been in worse situation“, dan saya tahu pasti bahwa kebijaksanaan akan memelihara saya (dan tentu saja keluarga saya). Maka bagi orang yang lapar seperti saya, strata satu tidaklah cukup. Dan kini di sinilah saya, di salah satu kota terpopuler di dunia, belajar sesuatu yang baru, memuaskan dahaga akan ilmu, mempertajam pengetahuan, mempertebal daya juang.

Dan ini barulah permulaan.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.