Aku terkesan pada kotbah pendeta saya di suatu minggu. Waktu itu beliau bercerita pengalamannya tentang berbagi dengan orang lain. Mungkin kita berpikir, pendeta memang harus sering-sering berbagi dengan orang lain, karena memang begitulah tugas mereka, tapi sering kita lupa bahwa mereka sama dengan kita, dan kita sama dengan mereka. Butuh waktu hingga kita bisa memberi dengan baik. Begitu juga dengan pendetaku itu. Dalam ceritanya, suatu kali dalam sebuah kunjungan ke daerah, sebuah baju favoritnya “diminta” oleh seorang pengerja lokal. Sang pendeta mengerahkan segala cara supaya bajunya ini tidak berpindah tangan, termasuk membasahi bajunya. Namun ternyata si pengerja ini telah menyiapkan plastik untuk membawa baju favorit pendeta yang telah dibasahi.
Di kesempatan lain, ketika itu sang pendeta membawa banyak barang untuk dibagikan ke sesama hamba Tuhan di luar negeri. Saat itu, kata beliau, seseorang berkata, “Olly, you have gift of giving.”
Gift of giving, talenta memberi, dari pengalaman saya bukanlah sesuatu yang kita dapat dengan instan. Butuh banyak latihan supaya kita terbiasa memberi.
Kenapa memberi?
Ini pertanyaan yang masih kucari jawabannya. Tetapi selama ini, memberi membuatku lebih mudah bersyukur terhadap segala yang kupunya. Memberi itu sulit, jauh lebih sulit daripada meminta. Dengan memberi, kita justru mendapat jauh lebih banyak dan jauh lebih berharga dari apa yang kita beri.
Dalam Alkitab kita dapat membaca bahwa di tahun ketujuh, ladang tidak boleh dipanen, supaya orang-orang miskin mendapat makan dari hasil ladang kita.
Aku yakin, dengan memberi kita tidak akan jadi berkekurangan, sebab sebenarnya semua yang kita terima ini bukanlah hasil kerja keras kita, melainkan pemberian Tuhan seluruhnya. Kerja keras tidak akan menambah kekayaan kita, apabila Tuhan tidak berkehendak. Terlebih lagi, menahan pemberian pasti tidak membuat kita jadi makin kaya.
Memberi membuat kita lebih mampu untuk berucap : cukup.
Be First to Comment