[butuh 10 menit bagiku mengingat kata ini, fuzzy, yang pernah jadi matakuliah di kampus. sigh, pengaruh umur barangkali :D]
Fuzzy, logika fuzzy, sering disebut juga dengan logika samar. Kenapa samar? Karena pada umumnya logika pada komputer itu hanya 0 atau 1, true atau false, benar atau salah. Sedangkan pada fuzzy, kita bisa memasukkan nilai di antara 0 dan 1, di antara true dan false, di antara benar dan salah. Setengah salah setengah benar, samar, tidak persis. Waktu itu Pak Anif dosenku mencontohkan logika fuzzy bisa diterapkan untuk menentukan tingkat kekotoran air bekas cucian baju dalam mesin cuci.
Pada kenyataannya, di luar dunia mesin dan komputer, logika fuzzy lah yang mendominasi jauh di atas logika nol satu. Tentu saja, bahkan alat-alat yang dijadikan standar pengukuran internasional pun bisa berubah. Jika standar yang demikian saja bisa meleset, apalagi standar-standar yang bergantung pada interpretasi manusia seperti hukum, ekonomi, dan segala ilmu sosial.
Sebuah pasal dalam undang-undang bisa diinterpretasikan macam-macam oleh orang yang berbeda-beda. Di kantor aku sering mengenal istilah grey area, atau juga debatable. Yang begini ini nggak akan selesai didebat sebelum semua mati kehabisan abab.
Bentar. Ini arahnya ke mana sih? Alterina Hofan. Kebetulan aku nonton kick andy tadi malam, topiknya pasangan Jane dan Alterina Hofan, di mana Alterina Hofan sekarang lagi dipenjara karena diadukan oleh orangtuanya Jane dengan tuduhan pemalsuan akta otentik.
Lha sekarang debatable-nya tentang jenis kelamin. Kan udah kujelasin tuh tentang logika fuzzy dan segala kesamaran yang terjadi di dunia nyata. Nah, apa sih yang disebut dengan normal? Apa, atau siapa yang berhak disebut laki-laki atau perempuan?
Apakah definisi laki-laki adalah setiap manusia yang memiliki kromosom 46xy dan perempuan adalah setiap manusia yang memiliki kromosom 46xx?
Padahal, seperti yang telah kita pahami dan kita alami dalam kehidupan sehari-hari, penentuan 1 dan 0, ya dan tidak, benar dan salah, itu berdasarkan pertimbangan yang relatif. Relatif 1 atau relatif 0, relatif ya atau relatif tidak, relatif benar atau relatif salah. Kenapa relatif? Karena akan banyak sekali varian di antara 1 dan 0. Seperti itu pula yang terjadi pada kromosom. Bukankah tidak mustahil bila kromosom itu punya variasi yang amat banyak? Lantas apakah kita akan menyatakan bahwa setiap orang yang memiliki kromosom selain 46xy adalah bukan laki-laki? Atau setiap orang yang memiliki kromosom selain 46xx adalah bukan perempuan? Lantas bagaimana nasib mereka yang memiliki variasi dalam kromosomnya? Bukan laki-laki dan bukan perempuan?
Ternyata di balik fuzzy-sme kromosom kelamin itu, bidang kedokteran sudah memiliki panduan tentang penentuan jenis kelamin.
Lantas, kenapa dia masih dipenjara ya? Kesalahan administratif? Aku ini pekerja administrasi, mata silap sedikit saja bisa mengakibatkan kesalahan fatal. Namanya saja manusia, bisa bikin salah bung!
Be First to Comment