Backup, Backup, Backup

Anda tidak akan pernah tahu kapan harddisk Anda berhenti bekerja. Memang, kita mungkin bisa mengetahui jumlah cycle (berapa kali harddisk di boot-up) dari harddisk, namun itu juga terkadang bukan jadi parameter akurat dalam memantau keadaan perangkat keras ini. Harga harddisk memang semakin murah dari hari ke hari, namun data yang di dalamnya bisa jadi tidak ternilai. Anda mungkin tidak ingin mengulang momen-momen untuk sekedar menciptakan ulang foto-foto kenangan dalam harddisk yang rusak. Atau, yang lebih parah, Anda kehilangan data sensitif korporat Anda karena harddisk tiba-tiba mati.

Permasalahan kehilangan data sebenarnya dapat diminimalisasi dengan membuat backup data dalam selang waktu tertentu, sehingga Anda dapat kembali ke poin tertentu dari backup. Memang ada loss, tetapi itu lebih baik ketimbang kehilangan seluruh data. Memang Anda akan mengeluarkan dana ekstra untuk drive tambahan, namun harga yang dibayar akan meminimalisasi risiko kerugian yang jauh lebih besar. Kasus terakhir yang kutangani, seseorang berusaha merestore drive SCSI 30GB buatan tahun 2003 yang tiba-tiba mati dari server korporat yang berisi database aplikasi sehari-hari. Sayang, drive ini sudah rusak secara fisik. Dari tampilan luarnya terlihat bahwa drive ini memang sudah terlalu usang karena pemakaian yang terus menerus, sedangkan kebersihan drive tidak diperhatikan.

Overheat, elektromagnetik, over current, dan beberapa hal lain dapat menyebabkan kerusakan drive. Harddrive tidak hanya terdiri dari pelat dan head. Seperti yang pernah dijelaskan oleh instruktur dari dataexpert.com.hk, berbagai komponen harddisk dapat menjadi sumber permasalahan, di antaranya:
– PCB (printed circuit board), papan sirkuit yang biasanya berwarna hijau di bawah drive yang berisi banyak komponen pengatur kerja drive. PCB dapat di-swap (dikanibal dengan produk yang identik) walaupun hasilnya tidak 100% sempurna.
– TVS (transient voltage supressor), semacam resistor yang terletak pada PCB. TVS hanya ada di drive ukuran 3.5. Terdapat 2 TVS, yakni 12 Volt dan 5 Volt.
– Fuse (sekering), untuk menahan arus listrik yang terlalu tinggi. Fuse bisa putus, dan kalau putus, Anda harus melepas fuse dengan heat gun agar drive dapat berjalan lagi. Konsekuensinya, drive Anda rentan terhadap listrik yang tidak stabil. Oleh karena itu, imaging atau cloning adalah sebuah keharusan setelah Anda melepas fuse.
– RAM, CPU, sebagai “otak” pengontrol kerja drive. Di sini terdapat System Area, semacam software / program pengontrol, P-List (permanent list, daftar sector yang rusak sewaktu drive dibuat di pabrik), G-List (growing list, daftar sector yang rusak saat penggunaan).
– Spindle motor, motor pemutar pelat
– Head stack, head pembaca pelat.
– Platter, pelat logam tempat menyimpan data. Sebuah harddrive bisa terdiri atas lebih dari 1 platter, dan ini menyebabkan penggantian head stack jadi lebih sulit. Platter sangat rentan debu dan rentan goresan saat dibuka.

Dengan mengetahui berbagai macam kemungkinan kerusakan harddrive, Anda mungkin dapat mulai merencanakan drive failure prevention sejak dini. Saat ini sudah banyak tersedia software auto backup, sehingga Anda tidak perlu repot-repot mengkopi data setiap saat. Atau mungkin Anda dapat beralih ke teknologi RAID yang sesuai untuk meminimalisasi dampak kerusakan drive terhadap konsistensi data Anda.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.