Kantor pajak, belakangan ini jadi topik favorit industri media. Entah itu dikaitkan dengan salah satu anak emasnya, Gayus Tambunan, atau yang baru-baru ini mencuat kembali, perseteruannya dengan PT KPC, maupun acara bantah-bantahannya dengan DPR. Pokoknya kalau lewat gedung yang kalau malam bak istana bermahkota cahaya biru itu, orang mesti menengok barang sebentar.
Mega Kuningan, tentu saja tak pernah hilang dari ingatan kita bahwa daerah ini nyaris selalu jadi target utama teroris yang suka ngebom itu. JW Marriott dan Ritz Carlton adalah 2 hotel mewah yang nongkrong di daerah ini, selain banyak gedung pencakar langit mewah lainnya.
Kedua daerah di atas, kantor pajak dan mega kuningan, adalah daerah yang mewah. Amat mewah. Namun di antaranya ada sebuah daerah yang terlupakan.
Tepat di belakang Menara Global, terus ke belakang sebelum mencapai mega kuningan, adalah rumah-rumah sederhana. Memang ada beberapa rumah mewah, tapi itu untuk disewakan. Kita bisa dengan mudah membedakan mana rumah penduduk dan mana rumah yang bukan. Sedikit masuk ke dalam, itulah wilayah kosku.
Aku masih beruntung, setiap kali hujan kosku ini tak diterjang banjir. Tapi lain halnya dengan kampung di belakang dan samping yang berbatasan dengan tembok kos-kosan.
Setiap kali hujan, entah itu hujan besar maupun hujan kecil, kampung ini selalu terendam banjir. Terlihat bekas peninggian tanah hingga mencapai batas maksimal, membuat rumah-rumah ini mirip rumah hobbit – atapnya amat pendek. Pun di depan masing-masing pintu dibangun tembok penahan air agar tidak masuk rumah. Banjir terakhir kemarin, air sempat menggenang hingga selutut orang dewasa – kebetulan aku lewat kampung ini, tepat selututku.
Kemarin aku melihat sebuah rumah tepat di sebelah SD yang penghuninya sedang memberesi barang-barangnya dan menaikkannya ke atas mobil pikap layaknya hendak pindahan rumah, dan hari ini rumah itu kosong.
Kebetulan sore ini aku bertemu dengan mas Rizal dan mas Mukmin, penjaga malam kosku, dan terjawablah segala pertanyaanku tentang daerah ini.
Sebelum ini aku pernah membuat tulisan tentang keherananku akan perbedaan yang amat signifikan antara gedung-gedung bertingkat di pinggir jalan dan pemukiman kumuh di belakangnya. Ternyata pemukiman ini adalah sisa-sisa dari penggusuran yang terjadi sejak zaman Soeharto, begitu kata mas Rizal.
Limapuluh hektar kampung telah tergusur demi proyek mega kuningan yang sekarang ini telah terbangun gedung-gedung mewah. Dan satu demi satu kontraktor akan mencaplok tanah di sini, dengan atau tanpa paksaan.
Banjir, itu disebabkan aliran air yang ke arah mega kuningan diblokir oleh timbunan tanah setinggi atap rumah. Ditambah lagi, timbunan tersebut sudah lama mangkrak dan ditumbuhi alang-alang, menurut mas Rizal sudah banyak ular dan binatang pembawa penyakit lain yang menghuninya.
Dengan faktor-faktor itu, secara otomatis para penduduk akan pindah karena tidak kerasan dan rumahnya akan dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Maka, pihak penguasa akan mereguk untung yang amat besar dari penguasaan tanah di daerah ini.
Lebih lagi, daerah ini sudah dipetakan menjadi kawasan elit. Segala bangunan yang tidak berlantai 3 pada akhirnya akan digusur, termasuk kosku, walau entah kapan. Pelan, namun pasti. Speechless, aku berjalan gontai menuju kamar kosku.
Aku mengabarkan ini, biar seluruh dunia tahu, uang si kaya telah merenggut kehidupan para miskin. Reformasi tampaknya tak pernah bisa menghapus sistem menetes ke bawah yang digagas Suharto dan kroni-kroninya. Apanya yang menetes ke bawah? Banjirnya? Tai-tainya? Sampahnya?
Sementara para pemilik gedung berkelas di mega kuningan ini leyeh-leyeh di peraduannya, para proletar di sini bertarung melawan air, meringkuk menggigil di antara lumpur dan air yang menghitam.
Bagaimana kami tidak menganggap para pengusaha adalah para penjahat, pak Abu? Bukankah Anda sendiri telah lari dari tanggungjawab Anda sebagai pengusaha? Bukankah Anda telah menelantarkan mereka yang merasakan catastrophe dari kesalahan yang dibuat perusahaan Anda?
Sampai kapan. Sampai kapan penduduk ini akan hidup seperti ini? Aku ingat, nyaris setiap hari seorang anak yang barangkali umurnya tak lebih dari 2 tahun, kujumpai sedang tidur di bangku pinggir jalan yang kebetulan selalu kulewati ketika hendak berangkat kerja. Pasti rumahnya satu di antara rumah-rumah liliput ini. Jika tidak, tentu orangtuanya tak akan membiarkannya tergeletak di bangku. Padahal tak jauh darinya ada selokan yang airnya tak pernah mengalir.
Mengenaskan bukan?
Ini bukan di daerah terpencil. Ini bukan remote area, kak Ben. Ini Jakarta. Tempatmu ingin meluncurkan album nyata-nyata bukan utopia.
Aku kembali pada kenyataan. Barangkali aku tak mampu berbuat apa-apa. Tetapi ketika berangkat tidur nanti, akan kuselipkan doa bagi mereka. Semoga hujan tak turun malam ini, semoga nyamuk pembawa penyakit tak mampir ke ranjang mereka, semoga.
Semoga tidak benar, kata-kata seorang kolegaku : negara ini sudah rusak. Tidak, semoga tidak.
Be First to Comment