Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Adalah sepenggal puisi yang pertama kali kudengar di SMP tahun kedua, dan masih mengendap di otak hingga kini. Bruder Dwi, kalau tidak salah, beliau yang menyuruh kami membacanya keras-keras, diulang, dan diulang hingga kami muridnya meresapi betul tiap kalimat yang kami ucapkan.
Ternyata cara ini ampuh juga.
Ketika ideku mandek, seperti sekarang ini, kalimat yang kublok di atas kembali terngiang di otakku. Dan setelah googling sebentar, ketemulah puisi lengkapnya, kukopi dari sini.
Aku Tidak Memilih Menjadi INSAN BIASA
Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan.
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses
Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.
Aku tidak akan menjual kebebasanku,
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma
Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarang atasan dan ancaman.
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:
“Ini telah kulakukan!”
segalanya ini memberikan makna seorang insan.by Den Alfange
Hidup ini cuma sekali, percuma kalo ngerjain sesuatu setengah-setengah. Begitu ucapan atasanku sekali waktu. Kalau di satu bidang usaha udah penuh, pindah ke bidang lain yang lebih sepi. Gak papa belajar dari nol, tapi harus jadi nomor satu, ucap beliau di lain kesempatan.
Yah, tampaknya aku masih harus merenungi intisari kehidupan.
Be First to Comment